About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam. Etiam augue pede, molestie eget, rhoncus at, convallis ut, eros. Aliquam pharetra. Nulla in tellus eget odio sagittis blandit. Maecenas at nisl. Nullam lorem mi, eleifend a, fringilla vel, semper at, ligula. Mauris eu wisi. Ut ante dui, aliquet nec, congue non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris. Duis sed massa id mauris pretium venenatis. Suspendisse cursus velit vel ligula. Mauris elit. ....read more

Selasa, 27 Maret 2012

SIKAP MENTAL WIRASWASTA



Dunia kewiraswastaan tampaknya sudah mulai diminati oleh masyarakat luas. Namun karena kurangnya informasi banyak orang merasa masih belum jelas tentang aspek- aspek apa saja yang melingkupi dunia wiraswasta.
Terkadang orang tidak menyadari bahwa “wiraswasta” tidak sama dengan swasta dan orang swasta tidak dengan sendirinya merupakan wiraswastawan sejati, meslipun mungkin yang bersangkutan menyatakan diri begitu. Ini disebabkan “wiraswasta” mengandung kata wira yang mempunyai makna luhurnya budi pekerti, teladan, memiliki karakter yang baik, berjiwa ksatria dan patriotik. Oleh sebab itu dapat dipastikan bahwa seorang wiraswastawan sejati selalu memegang etika sebaik-baiknya dalam berbisnis.

Secara etimologi, sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Suparman Sumahadidjaya , arti
kata wiraswasta bisa diuraikan lebih kurang sebagai berikut :
Wira = luhur, berani, ksatria
Swa = sendiri
Sta = berdiri
Jadi maksud dari kata wiraswasta kira-kira adalah mewujudkan aspirasi kehidupan mandiri dengan landasan keyakinan dan watak yang luhur. Lebih spesifiknya kaum wiraswastawan sejati adalah mereka yang berani memutuskan untuk bersikap, berpikirdan bertindak secara mandiri, mencari nafkah dan berkarier dengan jalan berusaha diatas kemampuan sendiri dengan cara yang jujur dan adil, jauh dari sifat-sifat kecurangan.
A. Kewiraswastaan dan Situasinya di Indonesia.
Di Indonesia, di penghujung abad ke 20 ini kewiraswastaan boleh dikata baru saja diterima oleh masyarakat sebagai salah satu alternatif dalam meniti karier dan penghidupan. Seperti diketahui, umumnya rakyat Indonesia mempunyai latar belakang pekerja pertanian yang baik. Dengan hidup dialam penjajahan hampir 3,5 abad lamanya, nyaris tidak ada figur panutan dalam dunia kewirausahaan.
Sosok kewiraswastaan yang ideal dituntut mempunyai nilai-nilai kearah
kualitas manusia yang semapan mungkin, dalam artian sangat memperhatikan struktur
prioritas kewiraswastaan yang terdiri dari empat lapisan yaitu :
1. Sikap mental (attitude)
2. Kepemimpinan/kepeloporan (leadership)
3. Ketatalaksanaan (management)
4. Ketrampilan (skill)
1. Sikap mental
2. Kepemimpinan
3. Tata Laksana
4. Ketrampilan

I. Sikap Mental
Sikap mental merupakan elemen paling dasar yang perlu dijamin untuk selalu dalam keadaan baik. Unsur ini yang menentukan apakah orang menjadi sosok yang tinggi budi ataukah sebaliknya menjadi orang yang jahat dan culas.  Selain menghadirkan sifatsifat baik alamiah seperti kejujuran dan ketulusan, sikap mental mencakup juga segisegi positif dalam motivasi dan proaktivitas.
Saran-saran berikut akan membantu anda untuk mengembangkan sikap mental
yang baik :
a. Para wirausaha adalah orang-orang yang mengetahui bagaimana menemukan kepuasan dalam pekerjaan dan bangga akan prestasinya. Tunjukan sikap mental yang positif terhadap pekerjaan anda, karena sikap inilah yang akan ikut menentukan keberhasilan anda.
b. Otak anda merupakan alat yang berdaya luar biasa. Menyediakan waktu beberapa saat setiap hari untuk renungan pikiran anda yang akan memungkinkan anda terarah pada kegiatan-kegiatan yang berarti.
c. Kebanyakan orang membatasi pikiran-pikirannya pada problem-problem dan
kegiatan-kegiatan sehari-hari. Gunakanlah imajinasi anda untuk meluaskan pikiran-pikiran anda dan cobalah berpikir yang besar-besar. Orang-orang yang dapat melihat gambaran besar adalah orang yang bersifat wirausaha dan merupakan calon-calon pemimpin bisnis maupun masyarakat.
d. Rasa humor ikut mengembangkan sikap mental yang sehat. Terlalu serius dapat
merugikan pekerjaan anda dan tidak sehat. Menunjukan rasa humor berpengaruh terhadap orang lain dengan jalan menyebarkan optimisme dan suasana yang santai.
e. Pikiran anda haruslah terorganisasi dengan baik sekali dan mampu memfokuskan
pada pelbagai problem. Anda haruslah mampu memindahkan perhatian anda dari satu problem ke problem lain dengan upaya yang minim.
Faktor-faktor yang perlu mendapat perhatian dalam mengembangkan sikap positif :
a. Pusatkan perhatian anda sedemikian rupa dan gunakanlah pikiran anda secara
produktif.
b. Pilihlah saran-saran positif dalam pekerjaan anda.
c. Bergaulah dengan orang-orang yang berpikir dan bertindak secara wirausaha.
d. Jauhilah pikiran dan ide-ide yang negatif.
e. Sadarlah bahwa andalah yang mengendalikan pikiran anda dan gunakanlah pikiran
anda secara produktif.
f. Anda haruslah selalu awas terhadap peluang-peluang untuk meningkatkan situasi
anda, baik dalam kehidupan pribadi, kehidupan kerja maupun dalam kehidupan
masyarakat.
g. Jangan takut meninggalkan suatu ide, jika tidak menghasilkan hasil yang benar.
h. Lingkungan anda akan mempengaruhi prestasi anda.
i. Percayalah pada diri anda dan bakat-bakat anda.
j. Hilangkan beban mental dengan mengambil tindakan.
II. Kepemimpinan.
Suatu pedoman bagi kepemimpinan yang baik adalah “perlakukanlah orangorang
lain sebagaimana anda ingin diperlakukan”. Berusaha memandang suatu keadaan dari sudut pandangan orang lain akan ikut mengembangkan sebuah sikap tepo seliro. Pengusaha yang berpeluang untuk maju secara mantap adalah yang memiliki jiwa kepemimpinan yang sangat menonjol. Ciri-ciri mereka biasanya sangatmenonjol, dan sangat khas.
a. Perilaku Pemimpin
Perilaku pemimpin menyangkut dua bidang utama :
1). Berorientasi pada tugas yang menetapkan sasaran, merencanakan dan
mencapai sasaran.
2). Berorientasi pada orang, yang memotivasi dan membina hubungan manusiawi.
Orientasi Tugas
Seorang pemimpin dengan orientasi demikian cenderung menunjukan perilaku :
a). Merumuskan secara jelas peranannya sendiri maupun peranan stafnya.
b). Menentukan tujuan-tujuan yang sukar tapi dapat dicapai.
c). Melaksanakan kepemimpinan secara aktif dalam merencanakan, mengarahkan,
membimbing dan mengendalikan kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada tujuan.
d). Berminat mencapai peningkatkan produktivitas.
Orientasi Orang
Orang-orang yang kuat dalam orientasi orang cenderung akan menunjukan
perilaku sebagai berikut :
a). Menunjukan perhatian atas terpeliharanya keharmonisan dalam organisasi dan
menghilangkan ketegangan, jika timbul.
b). Menunjukan perhatian pada orang sebagai manusia dan bukan sebagai alat
produksi saja.
c). Menunjukan pengertian dan rasa hormat pada kebutuhan-kebutuhan, tujuantujuan
dan keinginan-keinginan, perasaan dan ide-ide karyawan.
d). Mendirikan komunikasi timbal balik dengan staf.
e). Menerapkan prinsip penekanan ulang untuk meningkatkan prestasi karyawan.
f). Mendelegasikan kekuasaan dan tanggung jawab, serta mendorong inisiatif.
g). Menciptakan suatu suasana kerjasama dan gugus kerja dalam organisasi.
b. Tindakan Kepemimpinan
Saran-saran berikut akan dapat membantu anda meningkatkan kemampuan
kepemimpinan anda :
1). Sekali anda telah mengambil keputusan, ambil tindakan secepat mungkin.
2). Upaya-upaya anda dapat dilipat gandakan melalui bakat dan kemampuan staf
anda. Untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, anda harus mengetahui
bagaimana dan kapan menggunakan kemampuan ini dari orang-orang yang
mampu disekitar anda dan menyokong serta percaya pada anda sebagai
pemimpin.
3). Anda akan memperoleh kepercayaan pada kemampuan kepemimpinan
anda, jika anda memusatkan perhatian pada upaya meningkatkan kekuatankekuatan
anda. Jauhilah situasi dimana kelemahan-kelemahan anda akan
tampak.
4). Seorang pemimpin yang baik bersedia mengakui kesalahan-kesalahan dan
mengubah rencana-rencana. Anda haruslah sadar bahwa keadaan selalu
berubah dan penyesuaian-penyesuaian haruslah dibuat sewaktu-waktu.
III. Tata Laksana
Tata laksana merupakan terjemahan dari kata Management artinya pengelolaan. Yang perlu dimengerti disini adalah manajemen bukan semata-mata konsumsi para manajer saja. Berbeda dengan sikap mental dan kepemimpinan yang termasuk dalamklasifikasi nilai atau kualitas, maka manajemen merupakan pengetahuan yang bersifat praktis. Kalau sikap mental dan kepemimpinan berada di dalam jiwa, manajemen berada diluar mirip ketrampilan teknis. Manajemen mempunyai arti yang amat luas. Kegunaannya juga sangat universal dan semua orang atau organisasi memerlukan manajemen. Banyak sekali kasus yang membuktikan bahwa bila manajemen terabaikan, maka sebuah organisasi akan menjadi kacau dan morat marit.. Mulailah kegiatan manajemen seketika pada saat perusahaan baru saja
dimulai, sekecil apapun ukurannya.
 IV.Ketrampilan
Lapisan terluar dari struktur prioritas kewiraswastaan adalah ketrampilan. Banyak pihak berpendapat, bahwa dengan berbekal penguasaan ketrampilan, seseorang akan bisa diharapkan menjadi seorang entrepreneur yang berhasil. Pendapat ini sebenarnya tidaklah terlalu salah, kalau dilihat banyak contoh yang membuktikan, misalnya seorang penjahit dengan ketrampilan yang dimiliki akhirnya bisa memiliki sebuah perusahaan pakaian jadi yang cukup besar.
Ada tiga hal yang memungkinkan seseorang, baik trampil maupun tidak untuk
bisa tampil sebagai tokoh yang sukses, atau orang yang berkecukupan yaitu :
a. Memanfaatkan ledership yang berasal dari diri sendiri.
b. Memanfaatkan ledership orang lain.
c. Faktor keberuntungan ( luck atau hoki ).
B. Naluri Kewirausahaan
Setiap kegiatan yang mempunyai bobot persaingan, memerlukan ketajaman naluri. Seorang pemburu memerlukan naluri untuk bersaing dengan buruannya. Demikian juga dalam dunia kewirausahaan. Pengusaha bersaing tidak hanya dengan perusahaan-perusahaan pesaing, tetapi juga dengan keadaan dan situasi tertentu,seperti moneter dan ekonomi, politik, perubahan kebijaksanaan pemerintah. Untuk dapat mengantisipasi setiap perkembangan yang mungkin terjadi, seorang wiraswastaan perlu melatih naluri kewiraswastaannya, agar selalu siap menghadapi hal apapun dantetap bertahan hidup. Kim Woo Chong, pendiri Daewoo, mengatakan bahwa sekali kita memproklamirkan diri sebagai seorang wiraswastaan, maka semua pemikiran dan tindakan kita adalah untuk usaha. Kita harus “ merendam “ jiwa raga kita kesana. Makin lama kita menjiwai dunia wiraswasta, makin banyak pengalaman kita, maka makin tajamlah naluri kita.
PENGENALAN DAN PENGEMBANGAN PRIBADI
A. Karakteristik Wiraswastawan.
Sejarah kewiraswastaan menunjukkan bahwa wiraswastawan mempunyai karakteristik umum serta berasal dari kelas yang sama. Para pemula revolusi industri Inggris berasal dari kelas menengah dan menengah bawah. Dalam sejarah Amerika pada akhir abad ke sembilan belas, Heillbroner mengemukakan bahwa rata-rata wiraswastawan adalah anak dari orang tua yang mempunyai kondisi keuangan yang memadai, tidak miskin dan tidak kaya. Schumpeter menulis bahwa wiraswastawan tidak membentuk suatu kelas sosial tetapi berada dari semua kelas.
Menurut Mc Clelland, karakteristik wiraswastawan adalah sebagai berikut :
1. Keinginan untuk berprestasi. Penggerak psikologis utama yang memotivasi wiraswastawan adalah kebutuhan untuk berprestasi, yang biasanya diidentifikasikan sebagai n Ach. Kebutuhan ini didefinisikan sebagai keinginan atau dorongan dalam diri orang yang memotivasi perilaku ke arah pencapaian tujuan. Pencapaian tujuan merupakan tantangan bagi kompetisi individu.
2. Keinginan untuk bertanggung jawab. Wiraswastawan menginginkan tanggung jawab pribadi bagi pencapaian tujuan. Mereka memilih menggunakan sumber daya sendiri dengan cara bekerja sendiri untuk mencapai tujuan dan bertanggung jawab sendiri terhadap hasil yang dicapai. Akan tetapi mereka akan melakukannya secara berkelompok sepanjang mereka bisa secara pribadi mempengaruhi hasil-hasil.
3. Preferensi kepada resiko-resiko menengah. Wiraswastawan bukanlah penjudi. Mereka memilih menetapkan tujuan-tujuan yang membutuhkan tingkat kinerja yang tinggi, suatu tingkatan yang mereka percaya akan menuntut usaha keras tetapi yang dipercaya bisa mereka penuhi.
4. Persepsi pada kemungkinan berhasil. Keyakinan pada kemampuan untuk mencapai keberhasilan adalah kwalitas kepribadian wiraswastawan yang penting. Mereka mempelajari fakta-fakta yang dikumpulkan dan menilainya. Ketika semua fakta tidak sepenuhnya tersedia, mereka berpaling pada sikap percaya diri mereka yang tinggi dan melanjutkan tugas-tugas tersebut.
5. Rangsangan oleh umpan balik. Wiraswastawan ingin mengetahui bagaimana hal yang mereka kerjakan, apakah umpan baliknya baik atau buruk. Mereka dirangsang untuk mencapai hasil kerja yang lebih tinggi dengan mempelajari seberapa efektif usaha mereka.
6. Aktifitas enerjik. Wiraswastawan menunjukan enerji yang jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata orang. Mereka bersifat aktif dan mobil dan mempunyai proporsi waktu yang besar dalam mengerjakan tugas dengan cara baru. Mereka sangat menyadari perjalanan waktu. Kesadaran ini merangsang mereka untuk terlibat secara mendalam pada kerja yang mereka lakukan.
7. Orientasi ke masa depan. Wiraswastawan melakukan perencanaan dan berpikir ke depan. Mereka mencari dan mengantisipasi kemungkinan yang terjadi jauh di masa depan.
8. Ketrampilan dalam pengorganisasian. Wiraswastawan menunjukkan ketrampilan dalam organisasi kerja dan orang-orang dalam mencapai tujuan. Mereka sangat obyektif dalam memilih individu-individu untuk tugas tertentu. Mereka akan memilih yang ahli bukan teman agar pekerjaan bisa dilakukan dengan efisien.
9. Sikap terhadap uang. Keuntungan finansial adalah nomor dua dibandingkan arti penting dari prestasi kerja mereka. Mereka hanya memandang uang sebagai lambang kongkret dari tercapainya tujuan dan sebagai pembuktian dari kompetensi mereka.
B. Penentuan Potensi Kewiraswastaan.
Karakteristik wiraswastawan sukses dengan n Ach tinggi akan memberikan pedoman bagi analisa diri sendiri.
1. Kemampuan inovatif. Inovasi memerlukan pencarian kesempatan baru. Hal tersebut berarti perbaikan barang dan jasa yang ada, menciptakan barang dan jasa baru, atau mengkombinasikan unsur-unsur produksi yang ada dengan cara baru dan lebih baik.
2. Toleransi terhadap kemenduaan (ambiguity). Ini berarti kemampuan untuk berhubungan dengan hal yang tidak terstruktur dan tidak bisa diprediksi. Karakteristik ini berkaitan erat dengan proses inovatif.
3. Keinginan untuk berprestasi. N Ach adalah tanda-tanda penting dari doronga kewiraswastaan. Hal ini menandai para pemiliknya sebagai orang yang tidak mengenal menyerah di dalam mencapai tujuan yang telah mereka tetapkan sendiri.
4. Kemampuan perencanaan realistis. Menetapkan tujuan yang menantang dan bisa diterapkan adalah tanda dari perencanaan realistis. Tujuan ditetapkan sesuai dengan n Ach dari wiraswastawan.
5. Kepemimpinan terorientasi pada tujuan. Wiraswastawan membutuhkan aktivitas
yang mempunyai tujuan. N Ach yang tinggi memotivasi mereka untuk mengarahkan tenaga mereka dan rekan kerja serta bawahan mereka ke arah tujuan yang ditetapkan.
6. Obyektivitas. Wiraswastawan obyektif di dalam mengarahkan pemikiran dan
aktivitas kewiraswastaannya dengan cara pragmatis. Wiraswastawan
mengumpulkan fakta-fakta yang ada, mempelajarinya dan menentukan arah
tindakan dengan cara-cara praktis.
7. Tanggung jawab pribadi. Wiraswastawan memikul tanggung jawab pribadi,
mereka menetapkan tujuan sendiri dan memutuskan bagaimana cara mencapai
tujuan tersebut dengan kemampuan mereka sendiri.
8. Kemampuan beradaptasi. Para wiraswastawan mampu menyesuaikan diri dan
beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Ketika wiraswastawan terhambat
oleh kondisi yang berbeda dari apa yang mereka harapkan, mereka tidak
menyerah, namun melihat situasi secara obyektif.
9. Kemampuan sebagai pengorganisasi dan administrator. Wiraswastawan
mempunyai kemampuan mengorganisasi dan administasi di dalam
mengidentifikasi dan mengelompokkan orang-orang berbakat untuk mencapai
tujuan. Mereka menghargai kompetensi dan akan memilih para spesialis untuk
mengerjakan tugas dengan efisien.
Landasan Motivasi Berprestasi.
Sebagai wirausaha sangat penting untuk mengenal kekuatan dan kelemahan
dirinya. Karena dalam diri pengusaha, mengenal potensi dirinya tersebut maka
timbul suatu dorongan bahwa mengenal berbagai hal yang telah dicapai sebenarnya
akibat dari perilaku dirinya memanfaatkan kekuatan dan kelemahan yang ada pada
dirinya. Baik kekuatan maupun kelemahan, sebenarnya diyakini sebagai faktorfaktor
yang dapat mendorong pencapaian cita-cita dan tujuannya. Semakin meyakini
makna prestasi dirinya, semakin meyakini bahwa prestasi harus dapat mendorong
untuk terwujudnya prestasi yang lebih baik lagi. Prestasi yang sudah baik pada
dirinya akan tertantang untuk mewujudkan prestasi yang sempurna. Tujuan dan tekad
diri sendiri perlu diwujudkan secara jelas, hal ini akan membangkitkan semangat
berprestasi.
Pengenalan Diri Dan Motif Berprestasi.
Mengembangkan pribadi wirausaha adalah juga mengembangkan perilaku
wirausaha, dengan langkah awal mengenali diri sendiri serta kendala yang dihadapi.
Cara-cara mengenali diri sendiri dapat dilakukan dengan psikotest dan kemauan
sendiri untuk :
1. Menemukan kebenaran tentang dirinya yang diperoleh melalui penyadaran
pengalaman-pengalaman dan kejujuran terhadap dirinya.
2. Dengan berbekal kebenaran merupakan awal untuk mengembangkan diri secara
tepat.
3. Pengenalan diri sebagai modal awal untuk dapat mengidentifikasi dan
mengenali lingkungan, mengindera peluang-peluang bisnis dan
mendayagunakan sumber-sumber daya lingkungan perusahaan dalam batas
resiko yang tertanggungkan, untuk memperoleh nilai tambah.

Berdasarkan pengalaman-pengalaman diri sendiri atau mau belajar dari sebuah
pelajaran tentang keberhasilan maupun kegagalan prestasi dan karier, maka
wirausaha yang berhasil mempunyai ciri sebagai berikut :
a. Pemikiran luwes dan kreatif.
b. Mampu merencanakan, mengambil resiko, mengambil keputusan dan
mengambil tindakan.
c. Bersedia bekerja dalam keadaan konflik, perubahan dan keragu-raguan.
d. Melakukan analisis diri sendiri dengan lingkungan.
e. Mampu menyusun prioritas dalam sasaran-sasaran prestasi.
f. Bersedia menawarkan sesuatu yang berguna bagi orang lain.
g. Bersedia menciptakan kebutuhan lingkungan terhadap produk dan jasa.
Perilaku wirausaha yang diwujudkan dalam sikap dan motivasi terhadap karier
dan prestasi yang berhasil, adalah dicerminkan dalam tindakan-tindakan sebagai
berikut :
a. Mencontoh orang yang berhasil dalam bidang pekerjaan yang sama,
mengadaptasi teknik-teknik untuk mencapai sukses.
b. Menggunakan perubahan untuk memotivasi diri.
c. Berorientasi pada tindakan.
d. Tanggung jawab yang tinggi dalam menyukseskan suatu kegiatan.
e. Keberhasilan ditentukan oleh prestasi sumber daya manusia dalam
perusahaan.
f. Mengawasi agar keputusan dilaksanakan dengan baik dan jangan menyesali
kegagalan masa lampau.
Kendala Dan Teknik Dalam Pengenalan Dan Pengungkapan Diri.
Dalam upaya untuk mewujudkan jati diri mereka, pengusaha sangat merasa perlu
mengenali kepribadian dan kompetensi diri mereka sendiri, yang dapat dilakukan
dengan cara :
1. Upaya mengembangkan diri dengan melihat kekuatan dan kelemahan sendiri.
2. Melalui orang lain, melalui kelompok, melalui organisasi dan melalui
lingkungan.
3. Membuka isolasi diri melalui komunikasi dan berinteraksi.
Cara-cara mengenali diri sendiri :
1. Dengan menemukan kebenaran pada diri.
2. Dengan berbekal kebenaran merupakan awal untuk mengembangkan diri secara
tepat.
3. Khusus bagi pengusaha, pengenalan diri adalah modal awal untuk dapat
mengenali lingkungan, mengindera peluang bisnis dan mengarahkan sumbersumber
daya, dalam batas resiko yang tertanggungkan, untuk menikmati nilai
tambah.
Kendala dalam pengenalan diri adalah dalam perilaku :
1. Pelaku cendrung bias, cendrung menganggap dirinya baik .
2. Orang lain inginnya mengenal yang baik-baik saja tentang dirinya.
3. Tak mau menerima kenyataan buruk atau pahit.
Kendala seperti itu untuk mengeleminir diperlukan alat bantu yang lebih obyektif.
Cara yang tepat untuk mendeteksikan sikap dan sistem nilai seseorang antara lain
melalui psikotest. Kalau psikotest tidak dapat dilakukan maka petunjuk-petunjuk
yang tepat melalui pengenalan diri melalui :
1. Introspeksi diri.
2. Umpan balik pihak kedua.
3. Reaksi kelompoknya.
Pengembangan Motivasi Berprestasi.
Ada dua persyaratan pokok yang harus dipenuhi oleh seseorang apabila ingin
berprestasi sebaik mungkin yang dimilikinya :
1. “Kemampuan“ untuk berprestasi
Kemampuan dalam suatu bidang hanya bisa dimiliki oleh seseorang apabila ia
menguasai cara, prosedur dan teknik pengerjaan bidang yang ia tekuni. Seorang
pengusaha dianggap berkemampuan apabila ia menguasai bagaimana cara
merencanakan, mengkoordinasi, melaksanakan, mengarahkan dan
mengendalikan bidang usaha yang dijalaninya. Untuk bisa menguasai cara kerja
ini, seorang pengusaha harus memiliki bakat dalam bentuk kecerdasan yang
mencukupi dan penambahan pengetahuan dan ketrampilan yang didapat dari
pendidikan, latihan atau pengalaman kerja.
2. “Kemauan” untuk berprestasi.
Kemauan untuk berprestasi sering juga disebut sebagai motivasi untuk
berprestasi. Kata dasarnya adalah “motive” yang dapat dikatakan sebagai
dorongan yang ada pada diri seseorang untuk bertingkah laku untuk mencapai
suatu tujuan tertentu. Motivasi kerja seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor:
pengaruh lingkungan fisik, pengaruh lingkungan sosial dan motif (kebutuhan)
pribadi.
Ciri-ciri Dari Perbuatan dan Pemikiran Orang-orang Dengan Motif
Berprestasi, Afiliasi Dan Kekuasaan.
1. Motivasi Prestasi (N. Ach = need for Achievement)
Adanya motivasi yang kuat untuk prestasi ini dapat dilihat dari :
a. Pola Perbuatan
1). Mengambil tanggung jawab secara pribadi atas perbuatan menentukan
sendiri standar prestasinya dan berpatokan pada standar tersebut.
2). Mengambil resiko-resiko yang wajar, artinya tidak akan melakukan halhal
yang dianggap terlalu mudah atau terlalu sulit.
3). Mencoba mendapatkan umpan balik atas perbuatan-perbuatannya.
4). Berusaha melakukan segala sesuatu secara kreatif dan innovatif.
b. Pola Pemikiran
Memikirkan bagaimana cara :
1). Mengungguli/melebihi orang lain.
2). Memenuhi atau melebihi standar prestasi yang telah ditentukan sendiri.
3). Melakukan sesuatu yang khas.
4). Mencapai karier diri.
2. Motivasi Afiliasi (Need for Affiliation)
Motivasi afiliasi ditujukan bila seseorang ingin berada bersama orang lain dan
ingin menikmati persahabatan. Saling bersahabat dapat ditunjukan oleh :
a. Pola Perbuatan :
Lebih suka berada bersama orang lain daripada sendirian :
1). Sering bergaul dengan orang lain, sering berbicara di telepon.
2). Lebih mementingkan aspek-aspek interpersonal dari pekerjaannya dari
pada aspek-aspek yang menyangkut tugas-tugas dalam pekerjaannya.
3). Berusaha mendapat persetujuan orang lain.
4). Melakukan tugas-tugas secara lebih efektif bila bekerja dengan orang lain
dalam suasana kerja sama.
b. Pola Pemikiran :
Memikirkan tentang :
1). Keinginan untuk mengadakan, memperbaiki atau memelihara hubungan
yang erat, hangat dan bersahabat dengan orang lain.
2). Perasaan risau bila menghadapi perpisahan dengan orang lain.
3). Keinginan untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang bersahabat
dan bersukaria.
3. Motivasi Kekuasaan (Need for Power).
Motivasi kekuasaan ditunjukkan bila seseorang ingin mempunyai pengaruh atas
orang lain, yang dapat ditandai oleh :
a. Pola perbuatan :
1). Aktif menjalankan kebijakan suatu organisasi dimana ia menjadi
anggota.
2). Peka terhadap struktur pengaruh interpersonal dari suatu kelompok atau
organisasi.
3). Mempunyai koleksi benda-benda atau memasuki organisasi-organisasi
yang mempunyai prestise.
4). Mencoba membantu orang lain sedangkan bantuan itu tidak diminta
atau diinginkan oleh orang.
b. Pola pemikiran :
Memikirkan tentang :
1). Perbuatan-perbuatan yang kuat dan keras yang mempengaruhi orang
lain.
2). Pemberian pertolongan, bantuan, advis atau dukungan, bila hal tersebut
tidak diminta atau diinginkan oleh orang.
3). Usaha menguasai orang lain dengan mengatur tingkah laku atau
keadaan kehidupan orang lain, dengan jalan mencari informasi yang
penting yang akan mempengaruhi kehidupan atau perbuatan-perbuatan
orang lain.
4). Perasaan-perasaan positif atau negatif yang kuat pada orang lain,
sebagai akibat perbuatan-perbuatan yang dilakukan.
PENGAWASAN
A. Pengawasan.
Pengawasan bisa didefinisikan sebagai suatu usaha sistematis oleh manajemen
bisnis untuk membandingkan kinerja dengan standar, rencana, atau tujuan yang telah
ditentukan terlebih dahulu untuk menentukan apakah kinerja sejalan dengan standar
tersebut dan untuk mengambil tindakan penyembuhan yang diperlukan untuk melihat
bahwa sumber daya manusia dan sumber daya perusahaan lainnya digunakan dengan
B. Jenis-jenis Pengawasan.
Terdapat tga tipe pengawasan manajemen : (1) pra-pengawasan, (2)
pengawasan yang bersamaan (concurrent), dan (3) pengawasan umpan balik. Tiaptiap
jenis ditentukan oleh periode waktu di mana pengawasan ditekankan dalam
hubungannya dengan kerja yang dilaksanakan.
1. Pra – pengawasan.
Pengawasan yang terjasi sebelum kerja dilakukan dinamakan pra – pengawasan atau
pengawasan ke depan (feed-forward control). Dengan ini manajemen
menciptakan kebijaksanaan, prosedur, dan aturan yang ditujukan pada
dihilangkannya perilaku yang menyebabkan hasil kerja yang tidak diinginkan di
masa depan.
2. Pengawasan yang Bersamaan dengan Pelaksanaan Kegiatan.
Pengawasan yang terjadi ketika pekerjaan sedang dilaksanakan dinamakan
pengawasan “concurrent”. Pengawasan ini tidak hanya berhubungan dengan kinerja
kemanusiaan saja tetapi juga pada bidang-bidang seperti kinerja peralatan atau
penampakan departemen.
3. Pengawasan umpan balik.
Pengawasan yang dipusatkan pada kinerja organisasional di masa lalu dinamakan
pengawasan umpan balik. Ketika menggunakan tipe ini, wiraswastawan
sesungguhnya berusaha untuk mengambil tindakan koreksi dalam organisasi
dengan melihat pada sejarah organisasional selama periode waktu tertentu.
C. Pengawas dan Pengawasan.
1. Pekerjaan dari Pengawas.
 Tanggung jawab dasar dari pengawas adalah membantu manajer lini dengan
fungsi pengawasan dengan mengumpulkan informasi yang sesuai dan
menghasilkan laporan yang mncerminkan informasi ini.
2. Berapa Banyak Pengawasan yang Diperlukan?.
Aktivitas pengawasan hendaknya dilakukan jika manfaat yang diharapkan dari
pelaksanaan aktivitas tersebut lebih besar dari biaya pelaksanaannya. Pada
umumnya, wiraswastawan dan pengawas hendaknya bekerja sama untuk
menentukan dengan tepat berapa banyak aktivitas pengawasan dibenarkan dalam
situasi tertentu.
D. Kekuasaan.
Wewenang adalah hak untuk memerintah atau memberi perintah. Sejauh mana
individu mampu mempengaruhi yang lainnya sehingga mereka merespon perintah
yang diberikan kepada mereka dinamakan kekuasaan.
1. Kekuasaan Total dari Seorang Wiraswastawan.
Kekuasaan total yang dimiliki oleh seorang wiraswastawan terbentuk dari dua
jenis kekuasaan yang berbeda adalah : “Kekuasaan posisi” yaitu kekuasaan yang
berasal dari posisi organisasional yang dipegang oleh wiraswastawan, “Kekuasaan
pribadi” yaitu kekuasaan yang berasal dari hubungan kemanusiaan wiraswastawan
dengan yang lainnya.
2. Langkah-langkah untuk Meningkatkan Kekuasaan Total.
Langkah-langkah yang bisa dilakukan oleh wiraswastawan untuk
meningkatkan kekuasaan pribadi, wiraswastawan bisa berusaha untuk
mengembangkan :
a. Rasa berkewajiban pada anggota organisasi lainnya yang diarahkan pada dirinya
sendiri.
b. Kepercayaan pada anggota organisasi lainnya bahwa dia memiliki tingkat
keahlian yang lebih tinggi dalam organisasi.
c. Rasa identifikasi (sense of identification) yang dimiliki oleh anggota
organisasional lainnya dengan wiraswastawan.
d. Persepsi pada anggota organisasi lainnya bahwa mereka bergantung pada dia
sebagai wiraswastawan.

0 komentar :

Poskan Komentar