About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam. Etiam augue pede, molestie eget, rhoncus at, convallis ut, eros. Aliquam pharetra. Nulla in tellus eget odio sagittis blandit. Maecenas at nisl. Nullam lorem mi, eleifend a, fringilla vel, semper at, ligula. Mauris eu wisi. Ut ante dui, aliquet nec, congue non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris. Duis sed massa id mauris pretium venenatis. Suspendisse cursus velit vel ligula. Mauris elit. ....read more

Kamis, 21 Oktober 2010

tugas 2.mitos yang masih di yakini kebenarannya

Mitos yang dipercaya remaja

1.Berhubungan seks dengan pacar merupakan bukti cinta. Faktanya, berhubungan seks bukan cara untuk menunjukkan kasih sayang pada saat masih pacaran, melainkan karena adanya dorongan seksual yang tak terkontrol dan keinginan untuk mencoba-coba. Rasa sayang dengan pacar bisa ditunjukkan dengan cara lain.

          2.Hubungan seks pertama kali selalu ditandai dengan keluarnya darah dari vagina. Faktanya, tidak selalu begitu. Jika komunikasi seksual terjalin dengan baik dan hubungan seksual dilakukan dalam keadaan siap dan disertai foreplay yang cukup, itu bisa tidak memunculkan adanya perdarahan.Loncat-loncat setelah berhubungan seks tidak akan menyebabkan kehamilan. Faktanya, ketika sperma sudah memasuki vagina, maka ia akan mencari sel telur yang telah matang untuk dibuahi. Loncat-loncat tak akan mengeluarkan sperma. Jadi, tetap ada kemungkinan untuk terjadinya pembuahan atau kehamilan.

            3.Selaput dara yang robek berarti sudah pernah melakukan hubungan seksual atau tidak perawan lagi. Faktanya, tidak selalu begitu. Selaput dara merupakan selaput kulit tipis yang dapat meregang dan robek karena beberapa hal. Selain karena melakukan hubungan seks, ia juga bisa robek karena melakukan olah raga tertentu seperti naik sepeda atau berkuda. Karena itu, robeknya selaput dara belum tentu karena hubungan seks, malah ada juga perempuan yang sudah menikah dan berhubungan seks berkali-kali tapi selaput daranya masih utuh dan tidak koyak karena elastis.

          4 .  Keperawanan dapat ditebak dari cara berjalan dan bentuk pinggul. Faktanya, keperawanan tak bisa dilihat dari situ. Keperawanan bisa dipandang dari dua sisi -- fisidanmoral. Sisi fisik (ini
berkaitan dengan selaput dara) hanya bisa diketahui melalui hasil pemeriksaan dokter. Hanya dari pemeriksaan khususlah yang memungkinkan diketahuinya selaput dara robek atau tidak serta kemungkinan penyebabnya. Lalu, sisi moral dan sosial yang mengacu pada apakah seseorang perempuan sudah pernah melakukan hubungan seks atau belum.

       5.Dorongan seks laki-laki lebih besar daripada perempuan. Faktanya, dorongan seksual merupakan hal yang alamiah muncul pada setiap individu pada umumnya dimulai saat ia menginjak masa pubertas (karena mulai berfungsinya hormon seksual). Hal ini wajar dan seimbang, pada laki-laki maupun perempuan. Faktor yang mempengaruhi dorongan seksual antara lain kepribadian, pola sosialisasi, dan pengalaman seksual. Dorongan seksual perempuan hanya terkesan lebih kecil dari laki-laki karena lingkungan menganggap perempuan yang mengekspresikan dorongan seksualnya itu "nakal atau kurang baik", sementara laki-laki tidak pernah dipermasalahkan.

               6.Perempuan yang berdada besar dorongan seksualnya besar. Faktanya, tidak. Secara medis, tak ada hubungan langsung antara ukuran payudara dengan dorongan seksual seseorang. Dorongan seksual itu ditentukan oleh kepribadian, pola sosialisasi, dan pengalaman seksual.

         7.Masturbasi bisa menyebabkan lutut kopong. Faktanya, tidak. Sperma tidak diproduksi dan tidak disimpan di dalam lutut, melainkan di testis. Mungkin setelah masturbasi, biasanya timbul rasa lelah karena mengeluarkan banyak energi. Itulah yang membuat menjadi lemas, jadi bukan karena lututnya jadi kopong.

             8. Sering masturbasi bisa membuat mandul. Faktanya, secara medis masturbasi tidak menggangu kesehatan fisik selama dilakukan secara aman (tidak sampai menimbulkan luka atau   lecet). Risiko fisik biasanya berupa kelelahan. Pengaruh masturbasi biasanya bersifat psikologis, seperti perasaan bersalah, berdosa dan kadarnya berbeda-beda bagi setiap orang. Kemandulan justru biasanya akibat dari IMS (infeksi menular seksual) atau penyakit lainnya seperti kanker atau karena sebab fisik lainnya misalnya kualitas sperma yang kurang baik.

              9.Minuman bersoda akan dapat mempercepat selesainya menstruasi. Faktanya, menstruasi adalah proses pendarahan yang disebabkan luruhnya dinding rahim sebagai akibat tidak adanya pembuahan. Sakit tidaknya atau lancar tidaknya menstruasi seseorang selain dipengaruhi oleh hormon juga dipengaruhi faktor psikis, bukan karena minum minuman bersoda.

           10. IMS dapat dicegah dengan mencuci alat kelamin. Faktanya, tidak ada sabun atau desinfektan apa pun yang dapat mencegah IMS. Justru pada perempuan, jika mencuci bagian dalam vagina terlalu sering akan mempertinggi risiko terkena keputihan karena sabun dapat mengurangi kadar keasaman permukaan vagina yang sebetulnya berfungsi untuk membunuh kuman-kuman normal yang ada.

Salah satu rincian Planet (Planet Saturnus)

                                        PLANET SATURNUS



Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


             Saturnus adalah sebuah planet di tata surya yang dikenal juga sebagai planet bercincin. Jarak Saturnus sangat jauh dari Matahari, karena itulah Saturnus tampak tidak terlalu jelas dari Bumi. Saturnus berevolusi dalam waktu 29,46 tahun. Setiap 378 hari, Bumi, Saturnus, dan Matahari akan berada dalam satu garis lurus. Selain berevolusi, Saturnus juga berotasi dalam waktu yang sangat singkat, yaitu 10 jam 14 menit.
Saturnus memiliki kerapatan yang rendah karena sebagian besar zat penyusunnya berupa gas dan cairan. Inti Saturnus diperkirakan terdiri dari batuan padat dengan atmosfer tersusun atas gas amonia dan metana, hal ini tidak memungkinkan adanya kehidupan di Saturnus.


                      Cincin Saturnus sangat unik, terdiri beribu-ribu cincin yang mengelilingi planet ini. Bahan pembentuk cincin ini masih belum diketahui. Para ilmuwan berpendapat, cincin itu tidak mungkin terbuat dari lempengan padat karena akan hancur oleh gaya sentrifugal. Namun, tidak mungkin juga terbuat dari zat cair karena gaya sentrifugal akan mengakibatkan timbulnya gelombang. Jadi, sejauh ini, diperkirakan yang paling mungkin membentuk cincin-cincin itu adalah bongkahan-bongkahan es meteorit.
Hingga 2006, Saturnus diketahui memiliki 56 buah satelit alami. Tujuh diantaranya cukup masif untuk dapat runtuh berbentuk bola di bawah gaya gravitasinya sendiri. Mereka adalah Mimas, Enceladus, Tethys, Dione, Rhea, Titan (Satelit terbesar dengan ukuran lebih besar dari planet Merkurius), dan Iapetus
Bentuk fisik


 Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Saturnus


Saturnus, seperti dilihat oleh wahana Cassini


Penamaan
Adjektif
Saturnian
Ciri-ciri orbit[1][2]


Epos J2000


Aphelion
1.513.325.783 km
10,115 958 04 SA


Perihelion
1.353.572.956 km
9,048 076 35 AU
Sumbu semi-mayor
1.433.449.370 km
9,582 017 20 AU
Eksentrisitas
0,055 723 219
Periode orbit
10.832,327 hari
29,657 296 tahun


Periode sinodis
378,09 hari[3]


Kecepatan orbit rata-rata 9,69 km/s[3]


Anomali rata-rata
320,346 750°
Inklinasi
2,485 240° ke Ekliptika
5,51° ke ekuator Matahari
0,93° ke bidang invariabel[4]


Bujur node menaik
113,642 811°
Argumen perihelion
336,013 862°
Satelit
~ 200 yang teramati (61 dengan orbit yang aman
Ciri-ciri fisik
Jari-jari khatulistiwa
60.268 ± 4 km[5][6]
9,4492 Bumi
Jari-jari kutub
54.364 ± 10 km[5][6]
8,5521 Bumi
Kepepatan
0,097 96 ± 0,000 18
Luas permukaan
4,27×1010 km²[7][6]
83,703 Bumi
Volume
8,2713×1014 km³[3][6]
763,59 Bumi
Massa
5,6846×1026 kg[3]
95,152 Bumi
Kepadatan rata-rata 0,687 g/cm³[3][6]
(kurang dari air)


Gravitasi permukaan di khatulistiwa
8,96 m/s²[3][6]
0,914 g


Kecepatan lepas
35,5 km/s[3][6]


Hari sideris
0,439 – 0,449 hari[8]
(10 j 32 – 47 men)
Kecepatan rotasi 9,87 km/s[6]
35 500 km/jam
Kemiringan sumbu
26,73°[3]


Asensio rekta bagi kutub utara 2 jam 42 men 21 det
40.589°[5]


Deklinasi
83,537°[5]


Albedo
0,342 (terikat)
0,47 (geometrik)[3]


Suhu permukaan
level 1 bar
0,1 bar min rata-rata maks
134 K[3]


84 K[3]




Magnitudo tampak
+1,2 sampai -0,24[9]


Ukuran sudut
14,5" — 20,1"[3]
(tidak termasuk cincin)
Atmosfer[3]


Tinggi skala
59,5 km
Komposisi ~96% Hidrogen (H2)


~3% Helium


~0,4% Metana


~0,01% Amonia


~0,01% Hidrogen deuterida (HD)
0,000 7% Etana


Es:
Amonia


air


amonium hidrosulfida(NH4SH)

 
                 Besar Saturnus dibandingkan dengan Bumi.


              Saturnus memiliki bentuk yang diratakan di kutub, dan dibengkakkan keluar disekitar khatulistiwa. Diameter khatulistiwa Saturnus sebesar 120.536 km (74.867 mil) dimana diameter dari Kutub Utara ke Kutub Selatan sebesar 108.728 km (67.535 mil), berbeda sebesar 9%. Bentuk yang diratakan ini disebabkan oleh rotasinya yang sangat cepat, merotasi setiap 10 jam 14 menit waktu Bumi. Saturnus adalah satu-satunya Planet di tata surya yang massa jenisnya lebih sedikit daripada air. Walaupun inti Saturnus memiliki massa jenis yang lebih besar daripada air, planet ini memiliki atmosfer yang mengandung gas, sehingga massa jenis relatif planet ini sebesar is 0.69 g/cm³ (lebih sedikit daripada air), sebagai hasilnya, jika Saturnus diletakan diatas kolam yang penuh air, Saturnus akan mengapung.
Atmosfer




                 Awan heksagonal kutub utara yang pertama dideteksi oleh Voyager 1 dan akhirnya dipastikan oleh Cassini.
Komposisi
Bagian luar atmosfer Saturnus terbuat dari 96.7% hidrogen dan 3% helium, 0.2% metana dan 0.02% amonia. Pada atmosfer Saturnus juga terdapat sedikit kandungan asetilena, etana dan fosfin
Awan
                        Awan Saturnus, seperti halnya Yupiter, merotasi dengan kecepatan yang berbeda-beda bergantung dari posisi lintangnya. Tidak seperti Yupiter, awan Saturnus lebih redup dan awan Saturnus lebih lebar di khatulistiwa. Awan terendah Saturnus dibuat oleh air es, dan dengan ketebalan sekitar 10 kilometer. Temperatur Saturnus cukup rendah, dengan suhu 250 K (-10°F, -23°C). Awan diatasnya, memiliki ketebalan 50 kilometer, terbuat dari es amonium hidrogensulfida (simbol kimia: NH4HS), dan diatas awan tersebut terdapat awan es amonia dengan ketebalan 80 kilometer. Bagian teratas dibuat dari gas hidrogen dan helium, dimana tebalnya sekitar 200 dan 270 kilometer. Aurora juga diketahui terbentuk di mesosfer Saturnus.[10] Temperatur di awan bagian atas Saturnus sangat rendah, yaitu sebesar 98 K (-283 °F, -175 °C). Temperatur di awan bagian dalam Saturnus lebih besar daripada yang diluar karena panas yang diproduksi di bagian dalam Saturn.[11] Angin Saturnus merupakan salah satu dari angin terkencang di Tata Surya, mencapai kecepatan 500 m/s (1.800 km/h, 1.118 mph),[12] yang jauh lebih cepat daripada angin yang ada di Bumi.


                    Pada Atmosfer Saturnus juga terdapat awan berbentuk lonjong yang mirip dengan awan berbentuk lonjong yang lebih jelas yang ada di Yupiter. Titik lonjong ini adalah badai besar, mirip dengan angin taufan yang ada di Bumi. Pada tahun 1990, Teleskop Hubble mendeteksi awan putih didekat khatulistiwa Saturnus. Badai seperti tahun 1990 diketahui dengan nama Bintik Putih Raksasa, badai unik Saturnus yang hanya ada dalam waktu yang pendek dan muncul setiap 30 tahun waktu Bumi.[13] Bintik Putih Raksasa juga ditemukan tahun 1876, 1903, 1933, dan tahun 1960. Jika lingkaran konstan ini berlanjut, diprediksi bahwa pada tahun 2020 bintik putih besar akan terbentuk kembali.[14]
Pesawat angkasa Voyager 1 mendeteksi awan heksagonal didekat kutub utara Saturnus sekitar bujur 78° utara. Cassini-Huygens nantinya mengkonfirmasi hal ini tahun 2006. Tidak seperti kutub utara, kutub selatan tidak menunjukan bentuk awan heksagonal dan yang menarik, Cassini menemukan badai mirip dengan siklon tropis terkunci di kutub selatan dengan dinding mata yang jelas. Penemuan ini mendapat catatan karena tidak ada planet lain kecuali Bumi di tata surya yang memiliki dinding mata.
Planet
               
                 Inti Planet Saturnus mirip dengan Yupiter. Planet ini memiliki inti planet di pusatnya dan sangat panas, temperaturnya mencapai 15.000 K (26.540 °F, 14.730 °C). Inti Planet Saturnus sangat panas dan inti planet ini meradiasi sekitar 21/2 kali lebih panas daripada jumlah energi yang diterima Saturnus dari Matahari.[11] Inti Planet Saturnus sama besarnya dengan Bumi, namun jumlah massa jenisnya lebih besar. Diatas inti Saturnus terdapat bagian yang lebih tipis yang merupakan hidrogen metalik, sekitar 30.000 km (18.600 mil). Diatas bagian tersebut terdapat daerah liquid hidrogen dan helium.[15] Inti planet Saturnus berat, dengan massa sekitar 9 sampai 22 kali lebih dari massa inti Bumi.[16]
Medan gaya
                     
                             Saturnus memiliki medan gaya alami yang lebih lemah dari Yupiter. Medan gaya Saturnus unik karena porosnya simetrikal, tidak seperti planet lainnya. Saturnus menghasilkan gelombang radio, namun mereka terlalu lemah untuk dideteksi dari Bumi. Bulan dari Saturnus, Titan mengorbit di bagian luar medan gaya Saturnus dan memberikan keluar plasma terhadap daerah dari partikel dari atmosfer Titan yang yang diionisasi.[17]
                         Rotasi dan orbiT
Animasi awan heksagonal Saturnus.
Jarak antara Matahari dan Saturnus lebih dari 1.4 milyar km, sekitar 9 kali jarak antara Bumi dan Matahari. Perlu 29,46 tahun Bumi untuk Saturnus untuk mengorbit Matahari yang diketahui dengan nama periode orbit Saturnus. Saturnus memiliki periode rotasi selama 10 jam 14 menit waktu Bumi. Namun, Saturnus tidak merotasi dalam rata-rata yang konstan. Periode rotasi Saturnus tergantung dengan kecepatan rotasi gelombang radio yang dikeluarkan oleh Saturnus. Pesawat angkasa Cassini-Huygens menemukan bahwa emisi radio melambat, dan periode rotasi Saturnus meningkat. Tidak diketahui hal apa yang menyebabkan gelombang radio melambat.
Cincin Saturnus
                      Saturnus terkenal karena cincin di planetnya, yang menjadikannya sebagai salah satu obyek dapat dilihat yang paling menakjubkan dalam sistem tata surya.
Sejarah
               Cincin itu pertama sekali dilihat oleh Galileo Galilei pada tahun 1610 dengan teleskopnya, tetapi dia tidak dapat memastikannya. Dia kemudian menulis kepada adipati Toscana bahwa "Saturnus tidak sendirian, tetapi terdiri dari tiga yang hampir bersentuhan dan tidak bergerak. Cincin itu tersusun dalam garis sejajar dengan zodiak, dan yang ditengah (Saturnus) adalah tiga kali besar yang lurus (penjuru cincin)". Dia juga mengira bahwa Saturnus memiliki "telinga." Pada tahun 1612 sudut cincin menghadap tepat pada bumi dan cincin tersebut akhirnya hilang, dan kemudian pada tahun 1613 cincin itu muncul kembali, yang membuat Galileo bingungPersoalan cincin itu tidak dapat diselesaikan sehingga 1655 oleh Christian Huygens, yang menggunakan teleskop yang lebih kuat daripada teleskop yang digunakan Galileo.Pada tahun 1675 Giovanni Domenico Cassini menentukan bahwa cincin Saturnus sebenarnya terdiri dari berbagai cincin yang lebih kecil dengan ruang antara mereka, bagian terbesar dinamakan Divisi Cassini.Pada tahun 1859, James Clerk Maxwell menunjukan bahwa cincin tersebut tidak padat, namun terbuat dari partikel-partikel kecil, yang mengorbit Saturnus sendiri-sendiri, dan jika tidak, cincin itu akan tidak stabil atau terpisah.[18] James Keeler mempelajari cincin itu menggunakan spektrometer tahun 1895 yang membuktikan bahwa teori Maxwell benar.
                               Bentuk fisik cincin Saturnus




                Saturnus yang terlihat dari pesawat angkasa Cassini tahun 2007.
                   Cincin Saturnus tersebut dapat dilihat dengan menggunakan teleskop modern berkekuatan sederhana atau dengan teropong berkekuatan tinggi. Cincin ini menjulur 6.630 km hingga 120.700 km atas khatulistiwa Saturnus, dan terdiri daripada bebatuan silikon dioksida, oksida besi, dan partikel es dan batu. Terdapat dua teori mengenai asal cincin Saturnus. Teori pertama diusulkan oleh Édouard Roche pada abad ke-19, adalah cincin tersebut merupakan bekas bulan Saturnus yang orbitnya datang cukup dekat dengan Saturnus sehingga pecah akibat kekuatan pasang surut. Variasi teori ini adalah bulan tersebut pecah akibat hantaman dari komet atau asteroid. Teori kedua adalah cincin tersebut bukanlah dari bulan Saturnus, tetapi ditinggalkan dari nebula asal yang membentuk Saturnus. Teori ini tidak diterima masa kini disebabkan cincin Saturnus dianggap tidak stabil melewati periode selama jutaan tahun, dan dengan itu dianggap baru terbentuk.
                 Sementara ruang terluas di cincin, seperti Divisi Cassini dan Divisi Encke, dapat dilihat dari Bumi, Voyagers mendapati cincin tersebut mempunyai struktur seni yang terdiri dari ribuan bagian kecil dan cincin kecil. Struktur ini dipercayai terbentuk akibat tarikan graviti bulan-bulan Saturnus melalui berbagai cara. Sebagian bagian dihasilkan akibat bulan kecil yang lewat seperti Pan, dan banyak lagi bagian yang belum ditemukan, sementara sebagian cincin kecil ditahan oleh medan gravitas satelit penggembala kecil seperti Prometheus dan Pandora. Bagian lain terbentuk akibat resonansi antara periode orbit dari partikel di beberapa bagian dan bahwa bulan yang lebih besar yang terletak lebih jauh, pada Mimas terdapat divisi Cassini melalui cara ini, justru lebih berstruktur dalam cincin sebenarnya terdiri dari gelombang berputar yang dihasilkan oleh gangguan gravitas bulan secara berkala.
Jari-jari
                    Jari-jari di cincin Saturnus, difoto oleh pesawat angkasa Voyager 2.
                 Voyager menemukan suatu bentuk seperti ikan pari di cincin Saturnus yang disebut jari-jari. Jari-jari tersebut terlihat saat gelap ketika disinari sinar matahari, dan terlihat terang ketika ada dalam sisi yang tidak diterangi sinar matahari. Diperkirakan bahwa jari-jari tersebut adalah debu yang sangat kecil sekali yang naik keatas cincin. Debu itu merotasi dalam waktu yang sama dengan magnetosfer planet tersebut, dan diperkirakan bahwa debu itu memiliki koneksi dengan elektromagnetisme. Namun, alasan utama mengapa jari-jari itu ada masih tidak diketahui.
Cassini menemukan jari-jari tersebut 25 tahun kemudian. Jari-jari tersebut muncul dalam fenomena musiman, menghilang selama titik balik matahari.


Bulan

 
                  Titan, salah satu satelit milik Saturnus
             Saturnus memiliki 59 bulan, 48 diantaranya memiliki nama. Banyak bulan Saturnus yang sangat kecil, dimana 33 dari 50 bulan memiliki diameter lebih kecil dari 10 kilometer dan 13 bulan lainnya memiliki diameter lebih kecil dari 50 km.[19] 7 bulan lainnya cukup besar untuk, dimana bulan tersebut adalah Titan, Rhea, Iapetus, Dione, Tethys, Enceladus dan Mimas. Titan adalah bulan terbesar, lebih besar dari planet Merkurius dan satu-satunya bulan di atmosfir yang memiliki atmosfir yang tebal. Hyperion dan Phoebe adalah bulan terbesar lainnya, dengan diameter lebih besar dari 200 km.
Di Titan, bulan terbesar Saturnus, bulan Desember tahun 2004 dan bulan Januari tahun 2005 banyak foto Titan diambil oleh Cassini-Huygens. 1 bagian dari satelit ini, yaitu Huygens mendarat di Titan.
Eksplorasi




Zaman kuno dan observasi
                     
               Saturnus telah diketahui sejak zaman prasejarah.[20] Pada zaman kuno, planet ini adalah planet terjauh dari 5 planet yang diketahui di tata surya (termasuk Bumi) dan merupakan karakter utama dalam berbagai mitologi. Pada mitologi Kekaisaran Romawi, Dewa Saturnus, dimana nama Planet ini diambil dari namanya, adalah dewa pertanian dan panen.[21] Orang Romawi menganggap Saturnus sama dengan Dewa Yunani Kronos.[21] Orang Yunani mengeramatkan planet terluar untuk Kronos,[22] dan orang Romawi mengikutinya.


             Pada astrologi Hindu, terdapat 9 planet dimana Tata Surya diketahui dengan nama Navagraha. Saturnus, salah satu dari mereka, diketahui dengan nama "Sani" atau "Shani," hakim dari semua Planet, dan menentukan seluruhnya menurut kelakuan baik atau buruk yang mereka lakukan.[21] Kebudayaan Tiongkok dan Jepang kuno menandakan Saturnus sebagai bintang Bumi (土星). Hal ini berdasarkan 5 elemen yang secara tradisional digunakan untuk mengklasifikasikan elemen alami. Orang Ibrani kuno menyebut Saturnus dengan nama "Shabbathai". Malaikatnya adalah Cassiel. Kepintarannya, atau jiwa bermanfaat, adalah Agiel (layga), dan jiwanya (jiwa gelap) adalah Zazel (lzaz). Orang Turki Ottoman dan orang Melayu menamainya "Zuhal", berasal dari bahasa Arab زحل.
                      Cincin Saturnus membutuhkan paling sedikit teleskop dengan diameter 75 mm untuk menemukannya dan cincin tersebut tidak diketahui sampai ditemukan oleh Galileo Galilei tahun 1610.[23] Galileo sempat bingung dengan cincin Saturnus dan mengira bahwa Saturnus bertelinga. Christian Huygens menggunakan teleskop dengan perbesaran yang lebih besar dan ia menemukan bahwa cincin itu adalah cincin Saturnus. Huygens juga menemukan bulan dari Saturnus, Titan. Tidak lama, Giovanni Domenico Cassini menemukan 4 bulan lainnya, Iapetus, Rhea, Tethys dan Dione. Pada tahun 1675, Cassini juga menemukan celah yang disebut dengan divisi Cassini.[24]
Tidak ada penemuan lebih lanjut sampai tahun 1789 ketika William Herschel menemukan 2 bulan lagi, Mimas dan Enceladus. Bulan Hyperion, yang memiliki resonansi orbit dengan Titan, ditemukan tahun 1848 oleh tim dari Britania Raya.
              Pada tahun 1899, William Henry Pickering menemukan satelit Phoebe. Selama abad ke-20, penelitian terhadap Titan mengakibatkan adanya konfirmasi pada tahun 1944 bahwa Titan memiliki atmosfer yang tebal, dimana Titan menjadi bulan yang unik diantara bulan di Tata Surya lainnya.
Pioneer 11
                Saturnus dikunjungi oleh Pioneer 11 pada bulan September tahun 1979. Pioner 11 terbang 20.000 kilometer dari ujung awan Saturnus. Gambar Saturnus dan beberapa bulannya dengan resolusi rendah didapat. Resolusi gambar tersebut tidak bagus untuk melihat fitur permukaan. Pesawat udara juga mempelajari cincin Saturnus, diantara penemuan-penemuan, terdapat penemuan cincin-F dan fakta bahwa celah gelap di cincin terang jika dilihat kearah matahari, dalam kata lain, mereka bukan material kosong. Pioneer 11 juga mengukur temperatur Titan.[25]
Voyager
                     Pada bulan November tahun 1980, Voyager 1 mengunjungi sistem Saturnus. Pesawat ini mengirim kembali gambar Planet, cincin dan satelitnya dalam resolusi besar. Fitur permukaan berbagai bulan dilihat pertama kali. Voyager 1 melakukan penerbangan dekat dengan Titan, dan meningkatkan pengetahuan manusia atas Titan, selain itu, Voyager 1 juga membuktikan bahwa atmosfir Titan tidak dapat dilalui dalam panjang gelombang yang dapat dilihat, sehingga, tidak ada detail tentang permukaan Titan.[26]
1 tahun kemudian, pada bulan August tahun 1981, Voyager 2 melanjutkan penelitian sistem Saturnus. Lebih banyak foto bulan-bulan Saturnus jarak dekat yang didapat. Namun terjadi ketidakberuntungan, selama penerbangan, kamera satelit tersangkut untuk beberapa hari, dan beberapa pengambilan gambar yang direncanakan hilang. Graviti Saturnus digunakan untuk mengarahkan lintasan pesawat angkasa tersebut menuju Uranus.[26]
              Satelit tersebut menemukan dan memperjelas beberapa satelit baru yang mengorbit didekat cincin Saturnus. Mereka juga menemukan celah kecil Maxwell dan Keeler (celah seluas 42 km di cincin Saturnus).
Cassini




Gambaran Artis tentang Cassini yang sedang mengorbit Saturnus.




Posisi-posisi Saturnus: 2001–2029


                Pada tanggal 1 Juli 2004, pesawat angkasa Cassini–Huygens melakukan manuver SOI (Saturn Orbit Insertion) dan memasuki orbit sekitar Saturnus. Sebelum SOI, Cassini telah mempelajari sistem ini. Pada bulan Juni tahun 2004, Cassini telah melakukan penerbangan dekat ke Phoebe, dan memberikan data dan gambar dengan resolusi besar.
               Penerbangan Cassini ke bulan terbesar Titan telah menangkan gambar danau besar dan pantai serta beberapa pulau dan pegunungan. Cassini menyelesaikan 2 penerbangan Titan sebelum mengeluarkan satelit Huygens pada tanggal 25 Desember 2004. Huygens turun ke permukaan Titan pada tanggal 14 Januari 2005, mengirim data selama turun ke atmosfir dan pendaratan. Selama tahun 2005, Cassini melakukan beberapa penerbangan ke Titan dan satelit yang mengandung es. Penerbangan Cassini ke Titan yang terakhir dijadwalkan pada tanggal 19 Juli 2007.
                Sejak awal tahun 2005, ilmuan telah meneliti tentang petir di Saturnus, yang ditemukan oleh Cassini. Kekuatan petir di Saturnus diperkirakan 1000 kali lebih besar daripada petir di Bumi. Para ilmuan percaya bahwa badai ini adalah badai terkuat yang pernah terlihat.[27]
                      Pada tanggal 10 Maret 2006, NASA melaporkan bahwa, melalui gambar, satelit Cassini menemukan fakta-fakta tentang cairan air yang meletus di geiser di salah satu bulan Saturnus, Enceladus. Gambar tersebut juga menunjukan partikel air di cairan tersebut dipancarkan oleh pancaran es. Menurut Dr. Andrew Ingersoll dari Institut Teknologi California, "Bulan lainnya di tata surya memiliki samudera cairan air yang ditutup oleh es. Apa yang berbeda disini adalah bahwa cairan air tidak akan lebih dari 10 meter dibawah permukaan."[28]
                        Pada tanggal 20 September 2006, sebuah foto dari satelit Cassini menemukan cincin Saturnus yang belum ditemukan, diluar cincin utama Saturnus yang lebih bercahaya dan didalam cincin G dan E. Cincin ini merupakan hasil dari tabrakan meteor dengan 2 bulan Saturnus.[29]
              Pada bulan Juli tahun 2006, Cassini melihat bukti pertama danau hidrokarbon didekat kutub utara Titan, yang dikonfirmasi pada bulan Januari tahun 2007. Pada bulan Maret tahun 2007, beberapa gambar didekat kutub utara Titan menemukan "lautan" hidrokarbon, yang terbesar dimana besarnya hampir sebesar          Laut     Kaspia.[30]
                   Pada tahun 2006, satelit itu telah menemukan dan mengkonfirmasi 4 satelit baru. Misi utama satelit ini akan berakhir tahun 2008 ketika pesawat angkasa akan diperkirakan menyelesaikan 74 misi mengelilingi orbit disekitar planet. Namun satelit itu diperkirakan baru menyelesaikan setidak-tidaknya satu misi.
Penglihatan paling baik
               Saturnus adalah planet terjauh dari 5 planet yang paling mudah dilihat dengan mata telanjang, dan 4 planet lainnya adalah Merkurius, Venus, Mars, dan Yupiter (Uranus dan 4 Vesta terlihat dengan mata telanjang ketika langit gelap), dan planet terakhir yang diketahui oleh astronom awal sampai Uranus ditemukan tahun 1781. Saturnus muncul dalam penglihatan mata telanjang pada saat langit malam sebagai titik terang dan berwarna kuning. Bantuan optik (teleskop) perlu diperbesar setidak-tidaknya 20X untuk melihat cincin Saturnus bagi banyak orang.[31]




Badai Terpanjang Muncul di Planet Saturnus
Rabu, 16 September 2009 | 09:22 WIB


NASA and The Hubble Heritage Team (STScI/AURA)
Planet Saturnus yang direkam Teleskop Ruang Angkasa Hubble pada tahun 1996.
TERKAIT:
• Aurora Raksasa Terekam di Kutub Planet Saturnus
• Ada Petir di Atmosfer Titan, Adakah Kehidupan di Sana?
• Topan Raksasa di Kutub Utara Planet Saturnus Menguat
KOMPAS.com - Topan yang muncul di Planet Saturnus pada Januari lalu telah menyebabkan badai petir terpanjang pada sistem tata surya yang terpantau selama ini, demikian dilaporkan para astronom, Selasa (15/9).
                   Badai terbentuk di ”Storm Alley”, sebuah kawasan 35 derajat selatan cincin raksasa ekuator planet tersebut. Dalam Kongres European Planetary Science di Potsdam, dekat Berlin, Jerman, diungkapkan badai guntur mencapai garis tengah 3.000 kilometer.
                      Kejadian dahsyat ini terpantau oleh teropong Cassini milik Amerika Serikat, terdiri dari instrumen yang dapat mendeteksi gelombang radio yang dipancarkan oleh petir, ujar Georg Fischer dari the Austrian Academy of Sciences, dalam siaran pers.
                Lokasi itu merupakan satu dari beberapa tempat di atmosfer Saturnus yang memungkinkan terbentuknya konveksi vertikal dalam skala besar pada cuaca di planet ini, yang berperan penting untuk terbentuknya badai guntur.
                  Pada tahun 1980 dan 1981 wahana ruang angkasa Voyager yang terbang mendekati Saturnus juga mengobservasi badai guntur dekat ekuator. Diperkirakan megabadai akan terbentuk kembali di ekuator Saturnus ketika mengitari dekat Matahari.
Satu tahun Saturnus ekuivalen dengan lebih dari 29 tahun Bumi. Badai guntur di sistem tata surya sebelumnya berlangsung 7,5 bulan, November 2007-Juli 2008. (YUN)
Sumber: Kompas Cetak Dibaca : 13512

SALAH SATU RINCIAN PLANET (Planet Saturnus)

PLANET SATURNUS


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Saturnus adalah sebuah planet di tata surya yang dikenal juga sebagai planet bercincin. Jarak Saturnus sangat jauh dari Matahari, karena itulah Saturnus tampak tidak terlalu jelas dari Bumi. Saturnus berevolusi dalam waktu 29,46 tahun. Setiap 378 hari, Bumi, Saturnus, dan Matahari akan berada dalam satu garis lurus. Selain berevolusi, Saturnus juga berotasi dalam waktu yang sangat singkat, yaitu 10 jam 14 menit.
Saturnus memiliki kerapatan yang rendah karena sebagian besar zat penyusunnya berupa gas dan cairan. Inti Saturnus diperkirakan terdiri dari batuan padat dengan atmosfer tersusun atas gas amonia dan metana, hal ini tidak memungkinkan adanya kehidupan di Saturnus.
Cincin Saturnus sangat unik, terdiri beribu-ribu cincin yang mengelilingi planet ini. Bahan pembentuk cincin ini masih belum diketahui. Para ilmuwan berpendapat, cincin itu tidak mungkin terbuat dari lempengan padat karena akan hancur oleh gaya sentrifugal. Namun, tidak mungkin juga terbuat dari zat cair karena gaya sentrifugal akan mengakibatkan timbulnya gelombang. Jadi, sejauh ini, diperkirakan yang paling mungkin membentuk cincin-cincin itu adalah bongkahan-bongkahan es meteorit.
Hingga 2006, Saturnus diketahui memiliki 56 buah satelit alami. Tujuh diantaranya cukup masif untuk dapat runtuh berbentuk bola di bawah gaya gravitasinya sendiri. Mereka adalah Mimas, Enceladus, Tethys, Dione, Rhea, Titan (Satelit terbesar dengan ukuran lebih besar dari planet Merkurius), dan Iapetus
Bentuk fisik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Saturnus

Saturnus, seperti dilihat oleh wahana Cassini

Penamaan
Adjektif
Saturnian
Ciri-ciri orbit[1][2]

Epos J2000

Aphelion
1.513.325.783 km
10,115 958 04 SA

Perihelion
1.353.572.956 km
9,048 076 35 AU
Sumbu semi-mayor
1.433.449.370 km
9,582 017 20 AU
Eksentrisitas
0,055 723 219
Periode orbit
10.832,327 hari
29,657 296 tahun

Periode sinodis
378,09 hari[3]

Kecepatan orbit rata-rata 9,69 km/s[3]

Anomali rata-rata
320,346 750°
Inklinasi
2,485 240° ke Ekliptika
5,51° ke ekuator Matahari
0,93° ke bidang invariabel[4]

Bujur node menaik
113,642 811°
Argumen perihelion
336,013 862°
Satelit
~ 200 yang teramati (61 dengan orbit yang aman
Ciri-ciri fisik
Jari-jari khatulistiwa
60.268 ± 4 km[5][6]
9,4492 Bumi
Jari-jari kutub
54.364 ± 10 km[5][6]
8,5521 Bumi
Kepepatan
0,097 96 ± 0,000 18
Luas permukaan
4,27×1010 km²[7][6]
83,703 Bumi
Volume
8,2713×1014 km³[3][6]
763,59 Bumi
Massa
5,6846×1026 kg[3]
95,152 Bumi
Kepadatan rata-rata 0,687 g/cm³[3][6]
(kurang dari air)

Gravitasi permukaan di khatulistiwa
8,96 m/s²[3][6]
0,914 g

Kecepatan lepas
35,5 km/s[3][6]

Hari sideris
0,439 – 0,449 hari[8]
(10 j 32 – 47 men)
Kecepatan rotasi 9,87 km/s[6]
35 500 km/jam
Kemiringan sumbu
26,73°[3]

Asensio rekta bagi kutub utara 2 jam 42 men 21 det
40.589°[5]

Deklinasi
83,537°[5]

Albedo
0,342 (terikat)
0,47 (geometrik)[3]

Suhu permukaan
level 1 bar
0,1 bar min rata-rata maks
134 K[3]

84 K[3]


Magnitudo tampak
+1,2 sampai -0,24[9]

Ukuran sudut
14,5" — 20,1"[3]
(tidak termasuk cincin)
Atmosfer[3]

Tinggi skala
59,5 km
Komposisi ~96% Hidrogen (H2)

~3% Helium

~0,4% Metana

~0,01% Amonia

~0,01% Hidrogen deuterida (HD)
0,000 7% Etana

Es:
Amonia

air

amonium hidrosulfida(NH4SH)





Besar Saturnus dibandingkan dengan Bumi.
Saturnus memiliki bentuk yang diratakan di kutub, dan dibengkakkan keluar disekitar khatulistiwa. Diameter khatulistiwa Saturnus sebesar 120.536 km (74.867 mil) dimana diameter dari Kutub Utara ke Kutub Selatan sebesar 108.728 km (67.535 mil), berbeda sebesar 9%. Bentuk yang diratakan ini disebabkan oleh rotasinya yang sangat cepat, merotasi setiap 10 jam 14 menit waktu Bumi. Saturnus adalah satu-satunya Planet di tata surya yang massa jenisnya lebih sedikit daripada air. Walaupun inti Saturnus memiliki massa jenis yang lebih besar daripada air, planet ini memiliki atmosfer yang mengandung gas, sehingga massa jenis relatif planet ini sebesar is 0.69 g/cm³ (lebih sedikit daripada air), sebagai hasilnya, jika Saturnus diletakan diatas kolam yang penuh air, Saturnus akan mengapung.
Atmosfer


Awan heksagonal kutub utara yang pertama dideteksi oleh Voyager 1 dan akhirnya dipastikan oleh Cassini.
Komposisi
Bagian luar atmosfer Saturnus terbuat dari 96.7% hidrogen dan 3% helium, 0.2% metana dan 0.02% amonia. Pada atmosfer Saturnus juga terdapat sedikit kandungan asetilena, etana dan fosfin
Awan
Awan Saturnus, seperti halnya Yupiter, merotasi dengan kecepatan yang berbeda-beda bergantung dari posisi lintangnya. Tidak seperti Yupiter, awan Saturnus lebih redup dan awan Saturnus lebih lebar di khatulistiwa. Awan terendah Saturnus dibuat oleh air es, dan dengan ketebalan sekitar 10 kilometer. Temperatur Saturnus cukup rendah, dengan suhu 250 K (-10°F, -23°C). Awan diatasnya, memiliki ketebalan 50 kilometer, terbuat dari es amonium hidrogensulfida (simbol kimia: NH4HS), dan diatas awan tersebut terdapat awan es amonia dengan ketebalan 80 kilometer. Bagian teratas dibuat dari gas hidrogen dan helium, dimana tebalnya sekitar 200 dan 270 kilometer. Aurora juga diketahui terbentuk di mesosfer Saturnus.[10] Temperatur di awan bagian atas Saturnus sangat rendah, yaitu sebesar 98 K (-283 °F, -175 °C). Temperatur di awan bagian dalam Saturnus lebih besar daripada yang diluar karena panas yang diproduksi di bagian dalam Saturn.[11] Angin Saturnus merupakan salah satu dari angin terkencang di Tata Surya, mencapai kecepatan 500 m/s (1.800 km/h, 1.118 mph),[12] yang jauh lebih cepat daripada angin yang ada di Bumi.
Pada Atmosfer Saturnus juga terdapat awan berbentuk lonjong yang mirip dengan awan berbentuk lonjong yang lebih jelas yang ada di Yupiter. Titik lonjong ini adalah badai besar, mirip dengan angin taufan yang ada di Bumi. Pada tahun 1990, Teleskop Hubble mendeteksi awan putih didekat khatulistiwa Saturnus. Badai seperti tahun 1990 diketahui dengan nama Bintik Putih Raksasa, badai unik Saturnus yang hanya ada dalam waktu yang pendek dan muncul setiap 30 tahun waktu Bumi.[13] Bintik Putih Raksasa juga ditemukan tahun 1876, 1903, 1933, dan tahun 1960. Jika lingkaran konstan ini berlanjut, diprediksi bahwa pada tahun 2020 bintik putih besar akan terbentuk kembali.[14]
Pesawat angkasa Voyager 1 mendeteksi awan heksagonal didekat kutub utara Saturnus sekitar bujur 78° utara. Cassini-Huygens nantinya mengkonfirmasi hal ini tahun 2006. Tidak seperti kutub utara, kutub selatan tidak menunjukan bentuk awan heksagonal dan yang menarik, Cassini menemukan badai mirip dengan siklon tropis terkunci di kutub selatan dengan dinding mata yang jelas. Penemuan ini mendapat catatan karena tidak ada planet lain kecuali Bumi di tata surya yang memiliki dinding mata.
Planet
Inti Planet Saturnus mirip dengan Yupiter. Planet ini memiliki inti planet di pusatnya dan sangat panas, temperaturnya mencapai 15.000 K (26.540 °F, 14.730 °C). Inti Planet Saturnus sangat panas dan inti planet ini meradiasi sekitar 21/2 kali lebih panas daripada jumlah energi yang diterima Saturnus dari Matahari.[11] Inti Planet Saturnus sama besarnya dengan Bumi, namun jumlah massa jenisnya lebih besar. Diatas inti Saturnus terdapat bagian yang lebih tipis yang merupakan hidrogen metalik, sekitar 30.000 km (18.600 mil). Diatas bagian tersebut terdapat daerah liquid hidrogen dan helium.[15] Inti planet Saturnus berat, dengan massa sekitar 9 sampai 22 kali lebih dari massa inti Bumi.[16]
Medan gaya
Saturnus memiliki medan gaya alami yang lebih lemah dari Yupiter. Medan gaya Saturnus unik karena porosnya simetrikal, tidak seperti planet lainnya. Saturnus menghasilkan gelombang radio, namun mereka terlalu lemah untuk dideteksi dari Bumi. Bulan dari Saturnus, Titan mengorbit di bagian luar medan gaya Saturnus dan memberikan keluar plasma terhadap daerah dari partikel dari atmosfer Titan yang yang diionisasi.[17]
Rotasi dan orbiT
Animasi awan heksagonal Saturnus.
Jarak antara Matahari dan Saturnus lebih dari 1.4 milyar km, sekitar 9 kali jarak antara Bumi dan Matahari. Perlu 29,46 tahun Bumi untuk Saturnus untuk mengorbit Matahari yang diketahui dengan nama periode orbit Saturnus. Saturnus memiliki periode rotasi selama 10 jam 14 menit waktu Bumi. Namun, Saturnus tidak merotasi dalam rata-rata yang konstan. Periode rotasi Saturnus tergantung dengan kecepatan rotasi gelombang radio yang dikeluarkan oleh Saturnus. Pesawat angkasa Cassini-Huygens menemukan bahwa emisi radio melambat, dan periode rotasi Saturnus meningkat. Tidak diketahui hal apa yang menyebabkan gelombang radio melambat.
Cincin Saturnus
Saturnus terkenal karena cincin di planetnya, yang menjadikannya sebagai salah satu obyek dapat dilihat yang paling menakjubkan dalam sistem tata surya.
Sejarah
Cincin itu pertama sekali dilihat oleh Galileo Galilei pada tahun 1610 dengan teleskopnya, tetapi dia tidak dapat memastikannya. Dia kemudian menulis kepada adipati Toscana bahwa "Saturnus tidak sendirian, tetapi terdiri dari tiga yang hampir bersentuhan dan tidak bergerak. Cincin itu tersusun dalam garis sejajar dengan zodiak, dan yang ditengah (Saturnus) adalah tiga kali besar yang lurus (penjuru cincin)". Dia juga mengira bahwa Saturnus memiliki "telinga." Pada tahun 1612 sudut cincin menghadap tepat pada bumi dan cincin tersebut akhirnya hilang, dan kemudian pada tahun 1613 cincin itu muncul kembali, yang membuat Galileo bingungPersoalan cincin itu tidak dapat diselesaikan sehingga 1655 oleh Christian Huygens, yang menggunakan teleskop yang lebih kuat daripada teleskop yang digunakan Galileo.Pada tahun 1675 Giovanni Domenico Cassini menentukan bahwa cincin Saturnus sebenarnya terdiri dari berbagai cincin yang lebih kecil dengan ruang antara mereka, bagian terbesar dinamakan Divisi Cassini.Pada tahun 1859, James Clerk Maxwell menunjukan bahwa cincin tersebut tidak padat, namun terbuat dari partikel-partikel kecil, yang mengorbit Saturnus sendiri-sendiri, dan jika tidak, cincin itu akan tidak stabil atau terpisah.[18] James Keeler mempelajari cincin itu menggunakan spektrometer tahun 1895 yang membuktikan bahwa teori Maxwell benar.
Bentuk fisik cincin Saturnus


Saturnus yang terlihat dari pesawat angkasa Cassini tahun 2007.
Cincin Saturnus tersebut dapat dilihat dengan menggunakan teleskop modern berkekuatan sederhana atau dengan teropong berkekuatan tinggi. Cincin ini menjulur 6.630 km hingga 120.700 km atas khatulistiwa Saturnus, dan terdiri daripada bebatuan silikon dioksida, oksida besi, dan partikel es dan batu. Terdapat dua teori mengenai asal cincin Saturnus. Teori pertama diusulkan oleh Édouard Roche pada abad ke-19, adalah cincin tersebut merupakan bekas bulan Saturnus yang orbitnya datang cukup dekat dengan Saturnus sehingga pecah akibat kekuatan pasang surut. Variasi teori ini adalah bulan tersebut pecah akibat hantaman dari komet atau asteroid. Teori kedua adalah cincin tersebut bukanlah dari bulan Saturnus, tetapi ditinggalkan dari nebula asal yang membentuk Saturnus. Teori ini tidak diterima masa kini disebabkan cincin Saturnus dianggap tidak stabil melewati periode selama jutaan tahun, dan dengan itu dianggap baru terbentuk.
Sementara ruang terluas di cincin, seperti Divisi Cassini dan Divisi Encke, dapat dilihat dari Bumi, Voyagers mendapati cincin tersebut mempunyai struktur seni yang terdiri dari ribuan bagian kecil dan cincin kecil. Struktur ini dipercayai terbentuk akibat tarikan graviti bulan-bulan Saturnus melalui berbagai cara. Sebagian bagian dihasilkan akibat bulan kecil yang lewat seperti Pan, dan banyak lagi bagian yang belum ditemukan, sementara sebagian cincin kecil ditahan oleh medan gravitas satelit penggembala kecil seperti Prometheus dan Pandora. Bagian lain terbentuk akibat resonansi antara periode orbit dari partikel di beberapa bagian dan bahwa bulan yang lebih besar yang terletak lebih jauh, pada Mimas terdapat divisi Cassini melalui cara ini, justru lebih berstruktur dalam cincin sebenarnya terdiri dari gelombang berputar yang dihasilkan oleh gangguan gravitas bulan secara berkala.
Jari-jari


Jari-jari di cincin Saturnus, difoto oleh pesawat angkasa Voyager 2.
Voyager menemukan suatu bentuk seperti ikan pari di cincin Saturnus yang disebut jari-jari. Jari-jari tersebut terlihat saat gelap ketika disinari sinar matahari, dan terlihat terang ketika ada dalam sisi yang tidak diterangi sinar matahari. Diperkirakan bahwa jari-jari tersebut adalah debu yang sangat kecil sekali yang naik keatas cincin. Debu itu merotasi dalam waktu yang sama dengan magnetosfer planet tersebut, dan diperkirakan bahwa debu itu memiliki koneksi dengan elektromagnetisme. Namun, alasan utama mengapa jari-jari itu ada masih tidak diketahui.
Cassini menemukan jari-jari tersebut 25 tahun kemudian. Jari-jari tersebut muncul dalam fenomena musiman, menghilang selama titik balik matahari.
Bulan


Titan, salah satu satelit milik Saturnus
Saturnus memiliki 59 bulan, 48 diantaranya memiliki nama. Banyak bulan Saturnus yang sangat kecil, dimana 33 dari 50 bulan memiliki diameter lebih kecil dari 10 kilometer dan 13 bulan lainnya memiliki diameter lebih kecil dari 50 km.[19] 7 bulan lainnya cukup besar untuk, dimana bulan tersebut adalah Titan, Rhea, Iapetus, Dione, Tethys, Enceladus dan Mimas. Titan adalah bulan terbesar, lebih besar dari planet Merkurius dan satu-satunya bulan di atmosfir yang memiliki atmosfir yang tebal. Hyperion dan Phoebe adalah bulan terbesar lainnya, dengan diameter lebih besar dari 200 km.
Di Titan, bulan terbesar Saturnus, bulan Desember tahun 2004 dan bulan Januari tahun 2005 banyak foto Titan diambil oleh Cassini-Huygens. 1 bagian dari satelit ini, yaitu Huygens mendarat di Titan.
Eksplorasi


Zaman kuno dan observasi
Saturnus telah diketahui sejak zaman prasejarah.[20] Pada zaman kuno, planet ini adalah planet terjauh dari 5 planet yang diketahui di tata surya (termasuk Bumi) dan merupakan karakter utama dalam berbagai mitologi. Pada mitologi Kekaisaran Romawi, Dewa Saturnus, dimana nama Planet ini diambil dari namanya, adalah dewa pertanian dan panen.[21] Orang Romawi menganggap Saturnus sama dengan Dewa Yunani Kronos.[21] Orang Yunani mengeramatkan planet terluar untuk Kronos,[22] dan orang Romawi mengikutinya.
Pada astrologi Hindu, terdapat 9 planet dimana Tata Surya diketahui dengan nama Navagraha. Saturnus, salah satu dari mereka, diketahui dengan nama "Sani" atau "Shani," hakim dari semua Planet, dan menentukan seluruhnya menurut kelakuan baik atau buruk yang mereka lakukan.[21] Kebudayaan Tiongkok dan Jepang kuno menandakan Saturnus sebagai bintang Bumi (土星). Hal ini berdasarkan 5 elemen yang secara tradisional digunakan untuk mengklasifikasikan elemen alami. Orang Ibrani kuno menyebut Saturnus dengan nama "Shabbathai". Malaikatnya adalah Cassiel. Kepintarannya, atau jiwa bermanfaat, adalah Agiel (layga), dan jiwanya (jiwa gelap) adalah Zazel (lzaz). Orang Turki Ottoman dan orang Melayu menamainya "Zuhal", berasal dari bahasa Arab زحل.
Cincin Saturnus membutuhkan paling sedikit teleskop dengan diameter 75 mm untuk menemukannya dan cincin tersebut tidak diketahui sampai ditemukan oleh Galileo Galilei tahun 1610.[23] Galileo sempat bingung dengan cincin Saturnus dan mengira bahwa Saturnus bertelinga. Christian Huygens menggunakan teleskop dengan perbesaran yang lebih besar dan ia menemukan bahwa cincin itu adalah cincin Saturnus. Huygens juga menemukan bulan dari Saturnus, Titan. Tidak lama, Giovanni Domenico Cassini menemukan 4 bulan lainnya, Iapetus, Rhea, Tethys dan Dione. Pada tahun 1675, Cassini juga menemukan celah yang disebut dengan divisi Cassini.[24]
Tidak ada penemuan lebih lanjut sampai tahun 1789 ketika William Herschel menemukan 2 bulan lagi, Mimas dan Enceladus. Bulan Hyperion, yang memiliki resonansi orbit dengan Titan, ditemukan tahun 1848 oleh tim dari Britania Raya.
Pada tahun 1899, William Henry Pickering menemukan satelit Phoebe. Selama abad ke-20, penelitian terhadap Titan mengakibatkan adanya konfirmasi pada tahun 1944 bahwa Titan memiliki atmosfer yang tebal, dimana Titan menjadi bulan yang unik diantara bulan di Tata Surya lainnya.
Pioneer 11
Saturnus dikunjungi oleh Pioneer 11 pada bulan September tahun 1979. Pioner 11 terbang 20.000 kilometer dari ujung awan Saturnus. Gambar Saturnus dan beberapa bulannya dengan resolusi rendah didapat. Resolusi gambar tersebut tidak bagus untuk melihat fitur permukaan. Pesawat udara juga mempelajari cincin Saturnus, diantara penemuan-penemuan, terdapat penemuan cincin-F dan fakta bahwa celah gelap di cincin terang jika dilihat kearah matahari, dalam kata lain, mereka bukan material kosong. Pioneer 11 juga mengukur temperatur Titan.[25]
Voyager
Pada bulan November tahun 1980, Voyager 1 mengunjungi sistem Saturnus. Pesawat ini mengirim kembali gambar Planet, cincin dan satelitnya dalam resolusi besar. Fitur permukaan berbagai bulan dilihat pertama kali. Voyager 1 melakukan penerbangan dekat dengan Titan, dan meningkatkan pengetahuan manusia atas Titan, selain itu, Voyager 1 juga membuktikan bahwa atmosfir Titan tidak dapat dilalui dalam panjang gelombang yang dapat dilihat, sehingga, tidak ada detail tentang permukaan Titan.[26]
1 tahun kemudian, pada bulan August tahun 1981, Voyager 2 melanjutkan penelitian sistem Saturnus. Lebih banyak foto bulan-bulan Saturnus jarak dekat yang didapat. Namun terjadi ketidakberuntungan, selama penerbangan, kamera satelit tersangkut untuk beberapa hari, dan beberapa pengambilan gambar yang direncanakan hilang. Graviti Saturnus digunakan untuk mengarahkan lintasan pesawat angkasa tersebut menuju Uranus.[26]
Satelit tersebut menemukan dan memperjelas beberapa satelit baru yang mengorbit didekat cincin Saturnus. Mereka juga menemukan celah kecil Maxwell dan Keeler (celah seluas 42 km di cincin Saturnus).
Cassini


Gambaran Artis tentang Cassini yang sedang mengorbit Saturnus.


Posisi-posisi Saturnus: 2001–2029
Pada tanggal 1 Juli 2004, pesawat angkasa Cassini–Huygens melakukan manuver SOI (Saturn Orbit Insertion) dan memasuki orbit sekitar Saturnus. Sebelum SOI, Cassini telah mempelajari sistem ini. Pada bulan Juni tahun 2004, Cassini telah melakukan penerbangan dekat ke Phoebe, dan memberikan data dan gambar dengan resolusi besar.
Penerbangan Cassini ke bulan terbesar Titan telah menangkan gambar danau besar dan pantai serta beberapa pulau dan pegunungan. Cassini menyelesaikan 2 penerbangan Titan sebelum mengeluarkan satelit Huygens pada tanggal 25 Desember 2004. Huygens turun ke permukaan Titan pada tanggal 14 Januari 2005, mengirim data selama turun ke atmosfir dan pendaratan. Selama tahun 2005, Cassini melakukan beberapa penerbangan ke Titan dan satelit yang mengandung es. Penerbangan Cassini ke Titan yang terakhir dijadwalkan pada tanggal 19 Juli 2007.
Sejak awal tahun 2005, ilmuan telah meneliti tentang petir di Saturnus, yang ditemukan oleh Cassini. Kekuatan petir di Saturnus diperkirakan 1000 kali lebih besar daripada petir di Bumi. Para ilmuan percaya bahwa badai ini adalah badai terkuat yang pernah terlihat.[27]
Pada tanggal 10 Maret 2006, NASA melaporkan bahwa, melalui gambar, satelit Cassini menemukan fakta-fakta tentang cairan air yang meletus di geiser di salah satu bulan Saturnus, Enceladus. Gambar tersebut juga menunjukan partikel air di cairan tersebut dipancarkan oleh pancaran es. Menurut Dr. Andrew Ingersoll dari Institut Teknologi California, "Bulan lainnya di tata surya memiliki samudera cairan air yang ditutup oleh es. Apa yang berbeda disini adalah bahwa cairan air tidak akan lebih dari 10 meter dibawah permukaan."[28]
Pada tanggal 20 September 2006, sebuah foto dari satelit Cassini menemukan cincin Saturnus yang belum ditemukan, diluar cincin utama Saturnus yang lebih bercahaya dan didalam cincin G dan E. Cincin ini merupakan hasil dari tabrakan meteor dengan 2 bulan Saturnus.[29]
Pada bulan Juli tahun 2006, Cassini melihat bukti pertama danau hidrokarbon didekat kutub utara Titan, yang dikonfirmasi pada bulan Januari tahun 2007. Pada bulan Maret tahun 2007, beberapa gambar didekat kutub utara Titan menemukan "lautan" hidrokarbon, yang terbesar dimana besarnya hampir sebesar Laut Kaspia.[30]
Pada tahun 2006, satelit itu telah menemukan dan mengkonfirmasi 4 satelit baru. Misi utama satelit ini akan berakhir tahun 2008 ketika pesawat angkasa akan diperkirakan menyelesaikan 74 misi mengelilingi orbit disekitar planet. Namun satelit itu diperkirakan baru menyelesaikan setidak-tidaknya satu misi.
Penglihatan paling baik
Saturnus adalah planet terjauh dari 5 planet yang paling mudah dilihat dengan mata telanjang, dan 4 planet lainnya adalah Merkurius, Venus, Mars, dan Yupiter (Uranus dan 4 Vesta terlihat dengan mata telanjang ketika langit gelap), dan planet terakhir yang diketahui oleh astronom awal sampai Uranus ditemukan tahun 1781. Saturnus muncul dalam penglihatan mata telanjang pada saat langit malam sebagai titik terang dan berwarna kuning. Bantuan optik (teleskop) perlu diperbesar setidak-tidaknya 20X untuk melihat cincin Saturnus bagi banyak orang.[31]


Badai Terpanjang Muncul di Planet Saturnus
Rabu, 16 September 2009 | 09:22 WIB

NASA and The Hubble Heritage Team (STScI/AURA)
Planet Saturnus yang direkam Teleskop Ruang Angkasa Hubble pada tahun 1996.
TERKAIT:
• Aurora Raksasa Terekam di Kutub Planet Saturnus
• Ada Petir di Atmosfer Titan, Adakah Kehidupan di Sana?
• Topan Raksasa di Kutub Utara Planet Saturnus Menguat
KOMPAS.com - Topan yang muncul di Planet Saturnus pada Januari lalu telah menyebabkan badai petir terpanjang pada sistem tata surya yang terpantau selama ini, demikian dilaporkan para astronom, Selasa (15/9).
Badai terbentuk di ”Storm Alley”, sebuah kawasan 35 derajat selatan cincin raksasa ekuator planet tersebut. Dalam Kongres European Planetary Science di Potsdam, dekat Berlin, Jerman, diungkapkan badai guntur mencapai garis tengah 3.000 kilometer.
Kejadian dahsyat ini terpantau oleh teropong Cassini milik Amerika Serikat, terdiri dari instrumen yang dapat mendeteksi gelombang radio yang dipancarkan oleh petir, ujar Georg Fischer dari the Austrian Academy of Sciences, dalam siaran pers.
Lokasi itu merupakan satu dari beberapa tempat di atmosfer Saturnus yang memungkinkan terbentuknya konveksi vertikal dalam skala besar pada cuaca di planet ini, yang berperan penting untuk terbentuknya badai guntur.
Pada tahun 1980 dan 1981 wahana ruang angkasa Voyager yang terbang mendekati Saturnus juga mengobservasi badai guntur dekat ekuator. Diperkirakan megabadai akan terbentuk kembali di ekuator Saturnus ketika mengitari dekat Matahari.
Satu tahun Saturnus ekuivalen dengan lebih dari 29 tahun Bumi. Badai guntur di sistem tata surya sebelumnya berlangsung 7,5 bulan, November 2007-Juli 2008. (YUN)
Sumber: Kompas Cetak Dibaca : 13512

Selasa, 19 Oktober 2010

mitos yang masi di percayai kebenarannya

10 mitos tentang penurunan berat badan
Submitted by admin on Fri,
·         Kesehatan
Tentu saja ada banyak macam cara yang dianggap orang dapat menurunkan berat badan tanpa harus menjalani pengaturan diet. Banyak yang beranggapan bahwa pengaturan makan adalah ide yang muluk-muluk, konvensional dan susah dijalani. Ahli kesehatan atau terapis yang berani menjanjikan penurunan berat badan tanpa pengaturan makanan justru yang makin banyak digandrungi saat ini.
Untuk jenis terapi ini, pertanyaan yang harus anda tanyakan balik sebelum membayar rekening anda adalah, apakah terapi itu dapat memberikan jaminan bergaransi bahwa berat badan anda akan tetap stabil dan tidak akan naik lagi bila terapi anda telah usai? apalagi bila anda menjalani hidup anda seperti biasa, apalagi bila itu dipenuhi junk food, banyak undangan pesta, dine-out dan pola makan tidak teratur?
Jaman sekarang adalah jaman serba instant, bila ada cara kilat dan singkat, mengapa harus susah-susah mengatur diet makanan. Benarkah demikian?
Berikut ini adalah beberapa contoh mitos salah, yang paling umum ditemui tentang penurunan berat badan:
1.       Give me one magic drug, and I’ll be fine
Berikan satu jenis obat ampuh saja maka saya akan jadi kurus dan cantik seperti ‘cinderella’. Benarkah demikian? Jika benar ada satu jenis obat magic yang membuat orang langsung kurus, berarti persentase penderita obesitas dan masalah kegemukan negara maju seperti USA, dan Australia adalah 0%. Karena pusat riset penelitian dan kebanyakan obat yang dijual di Indonesia adalah ide dan produk impor dari negara-negara maju tersebut. Kenyataannya, sampai saat ini USA dan Australia, adalah termasuk negara-negara yang masih berjuang melawan obesitas.
Cari saja publikasi kesehatan tentang obesitas di negara tersebut, maka anda akan lebih yakin bahwa obesitas adalah masalah pilihan life-style tiap orang. Atau mungkin kita patut bertanya, mengapa penyanyi terkenal seperti Madona yang dengan pendapatannya dapat membeli obat pelangsing semahal apa pun, memilih hidup sehat dengan diet dan berolah raga.
2.       Dengan dosis obat tinggi, keberhasilanku lebih tinggi
Andaikan  saja dosis obat yang diberikan lebih tinggi saja, saya akan lebih cepat langsing. Benarkah demikian? Tanyakan dahulu pada diri anda, apakah beneficial effect dari obat lebih tinggi dari side effect obat? Cari tahu, bagaimana cara kerja obat pada anda? Dosis obat yang tinggi tidak selalu menjamin anda akan lebih cepat kurus. Sebaliknya, tanyakan seberapa seriuskah anda mengatur diet anda dan merangkul gaya hidup sehat. Atau tanyakan pada anda, sudah siapkah anda hidup sehat tanpa bantuan obat berdosis tinggi?
3.       Skipping meals
Contohnya dengan tidak makan pagi, tidak makan siang atau tidak makan malam. Benarkah demikian? Tidak. Melompati salah satu jam makan anda, justru akan membuat anda kelaparan, bahkan tak jarang sakit maag anda kambuh. Melompati jam makan justru membuat metabolisme tubuh anda melambat, yang berarti memperlambat pembakaran kalori. Buktinya, tubuh anda pasti akan terasa lemas bukan? Kecuali karena alasan dan tujuan ibadah, janganlah melompati jam makan hanya untuk mengurangi berat badan.
4.       Merokok
Merokok membuat anda lebih kurus. Seberapa jauhkah anda siap menanggung resiko kesehatan dari kebiasaan rokok untuk sebuah badan yang cantik, bila cantik yang sehat adalah yang anda cari
5.       Diet kilat
Benarkah demikian? Diet dengan penurunan badan yang cepat dan memaksa justru memperlambat metabolisme badan anda dan akan mempercepat kenaikan berat badan anda.
(Baca komentar dr. Grace tentang penurunan berat badan cepat

6.       Minum pencahar yang banyak dong
Laxative abuse, atau minum pencahar terlalu banyak dan berkepanjangan tidak membantu anda mencapai berat badan ideal, tetapi justru dapat mengganggu fungsi usus besar dan dapat menyebabkan kerusakan usus besar
7.       Minum air es bikin gemuk
Air putih mengandung 0 kalori, jadi tidak akan menggemukkan badan, kecuali kalau itu bukan jenis es yang anda maksud tetapi es krim kesukaan anak-anak yang terbuat dari susu, telor, dan gula. Yang menarik, ahli kesehatan di Amerika malah berpendapat bahwa minum air dingin justru membantu pembakaran kalori dan metabolisme lemak.
Tetapi penelitian ini masih banyak mengandung kontrovesi, karena banyak orang salah mengartikan dengan minum air dalam jumlah berlebihan (sehingga berat badan tubuh naik karena kadar cairan dalam tubuh meningkat) tetapi tidak sebanding dengan sedikitnya kalori yang terbakar. Selain itu juga masih banyak kalkulasi tentang berapa cairan yg harus dikomsumsi untuk sejumlah kalori yang dibakar. Jadi sebaiknya jangan menggantungkan usaha penurunan berat badan pada air es. Tetap lah berusaha makan dan olah raga sehat.
8.       Olah raga tidak penting, cukup mengatur diet makan
            Olah raga membantu meningkatkan metabolisme dasar tubuh, dan juga membantu mempercepat pembakaran kalori. Orang yang tidak hanya mengatur pola makan sehat, tetapi juga membiasakan diri berolah raga, akan lebih cepat menurunkan dan mempertahankan berat badan, dibandingkan dengan orang dengan sedentary life style (banyak duduk dalam pekerjaan sehari-hari) yang hanya menerapkan diet untuk penurunan berat badan,


9.       Jangan Olah raga, nanti tambah gendut
Olah raga justru membantu pembakaran kalori, tetapi acapkali selesai olah raga orang mengkonsumsi makanan atau snack yang lebih banyak daripada kalori yang dibakar. Sebagai contoh, Eva (bukan nama sebenarnya) dengan berat badan 45 kg yang jogging di kompleks sekitar rumah selama setengah jam. Kalori yang terbakar adalah sekitar 160 kalori, setelah itu karena dia lapar dia makan satu donat berisi selai blueberry (330 kalori). Berarti olahraga  Eva hari itu hanya membakar setengah dari donut yang ia makan. Jadi Olah raga, tidak menambah gendut,  tetapi snack dan makan yang mengandung terlalu banyak lemak dan kalori sesudah olah raga yang dapat membuat gemuk. Tetaplah berolahraga, dan makanlah makanan yang sehat dan rendah kalori sesudah berolah raga
10.    Jangan makan lebih dari jam 6 sore
Sebenarnya tidak ada penelitian yang menganjurkan jam 6 sore sebagai patokan akhir untuk tidak makan malam. Yang dianjurkan adalah tidak makan setidaknya sekitar 3 jam sebelum tidur, karena kalori yang didapat dari asupan makan terakhir, paling tidak masih dapat dimetabolisme, dan dibakar, karena anda masih menjalankan aktifitas harian anda. Sedangkan bila terlalu dekat dengan jam tidur, metabolisme anda mulai menurun, dan kelebihan kalori akan disimpan menjadi lemak. Jadi bukan waktu yang menunjukkan jam 6 sore yang menjadi patokan, karena tiap orang memiliki kebiasaan jam makan, dan jam tidur yang berbeda.

Bila anda berdiskusi dengan teman-teman maupun membaca majalah, anda masih akan menemukan lebih banyak mitos lagi yang membuat anda semakin bingung. Tetapi yang paling penting, pahamilah cara kerja tubuh anda, berpikirlah kritis, dan jangan mudah percaya. Karena, hanya andalah yang paling tahu tentang life style anda , dan anda yang akan menikmati benefit yang diperoleh dari hidup sehat.
(Dr.Med. M.Judio-Sam, MMed)
Illustration by Erika Oller